Minggu, 29 Oktober 2017

Ciri ciri struktur sosial kota

Ciri ciri struktur sosial kota
                Menurut pengalaman di dunia barat kota bermunculan sebagai akibat dari revolusi industry pada dua abad terakhir, sedang di asia perkembangan lebih akibat krisis ekonnomi yang melanda pedesaan.
Adapun struktur sosial dari kota dapat rinci atas beberapa gejala sebagai berikut :


a.       Heterogenitas sosial
Kepadatan penduduk mendorong terjadinya persaingan dalam pemanfaatan ruang. Orang dalam bertindak memilih-milih mana yang paling menguntungkan baginya, sehingga akhirnya tercapai sosialisasi. Demi berhasilnya kapilaritas sosial (membuat karier) orang menguranngi anak dalam keluarga.
Kota juga merupakan melting pot bagi suku ataupun ras. Masing-masing minoritas ada kecenderungan untuk mempertahankan diri dengan memelihara jumlah anak yang bannyak untuk tak hilanng terdesak.

b.      Hubungan sekunder
Jika hubungan antara penduduk di desa disebut primer, dikota disebut sekunder. Pengenalan dengan orang lain serba terbatas pada bidang hidup tertentu. Inni disebabkan antara lain karena tempat tinggal orang juga cukup terpencar dan saling mengenalnya hanya menurut perhatian antar pihak.
            Ciri-ciri kelompok sekunder
1.      Kelompok ini terbentuk atas dasar kesadaran dan kemauan dari para anggotanya. Interaksi dalam kelompok sekunder terdiri atas saling hubungan yang tidak langsung berjauhan dan formal, kurang bersifat kekeluargaan. Hubungan hubungan tersebut biasanya lebih objektif.
2.      Peranan atau fungsi kelompok sekunder dalam kehidupan manusia adalah untuk mencapai salah satu tujuan tertentu dalam masyarakat dengan bersama, secara objek dan rasional. Misalnya, organisasi partai politik, perhimpunan, serikat kerja, dan sebagainya.[1]

c.       Control (pengawasan sekunder)
Di kota orang tak memperdulikan perilaku pribadi sesamanya. Meski ada control sosial tetapi ini sifatnya non pribadi; asal tak merugikan bagi umum, tindakan dapat ditoleransikan.
d.      Toleransi  sosial
Dapat orang-orang kota secara fisik berdekatan, tetapi secara sosial berjauhan. Dapat saja disini orang berpesta dan pada saat yang sama tetangga menagisi orang meninggal.
e.       Mobilitas sosial
Disini yang dimaksudkan adalah perubahan status sosial seseorang. Orang menginginkan kenaikan dalam jenjang dalam kemasyarakatan (social climbing). Dalam kehidupan kota, segalanya diprofesionalkan, dan melalui profesinya orang dapat naik posisinya. Selain usuaha dan perjuangan pribadi untuk berhasil, secara kelompok seprofesi juga ada solidaritas klas. Terjadilah perkumpulan-perkumpulan orang seprofesi: guru, dokter, wartawan, pedagang tukang becak, dsb.

f.       Ikatan sukarela (voluntary association)
Secara ssukarela orang menggabungkan diri ke dalam perkumpulan yang di sukainya, seperti sport, aneka grup musik, klub filateli, perkumpulan filantropi. Meski sifatnya serba sukarela, ada pula gejala bahwa berbagai perkumpulan bersaing mencari anggota melalui tehnik memikat dan propaganda, misalnya partai politik, gerakan anti merokok, gerakan keluarga berencana.
g.      Individualisasi
Orang-orang dapat memutuskan apa-apa secara pribadi, merencanakan kariernya tanpa desakan orang lain. Ini berlatar belakang corak sekunder kehidupan masyarakat kota, sifat sukarelanya ikatan dan banyaknya kemungkinan yang tersedia.
h.      Segregasi keruangan (spatial segregation)
Akibat dari kompetisi ruang, terjadi pola sosial yang berdasarkan persebaran tempat tinggal atau sekaligus kegiatan sosial-ekonomis. Ini distudi oleh ekologi manusia (human ecology). Terjadilah pemisahan (segregation) berdasarkan ras dan sekali gus penupa jiwa. Misalnya ada wilayah kaum cina, arab, orang patuh agama (kauman), kaum elite, kaum gelandangan, daerah operasi pelacuran, pencopetan, kegiatan olahrag, hiburan, pertokoan dan pasar, kompleks kepegawaian tertentu dsb.[2]





[1] Abu Ahmadi, psikologi sosial, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009), hlm 90
[2] N. Daldjoent, Seluk beluk masyarakat kota, (Bandung: P.T. Alumni, 1997), hlm 51-53