Ciri ciri struktur sosial kota
Menurut
pengalaman di dunia barat kota bermunculan sebagai akibat dari revolusi
industry pada dua abad terakhir, sedang di asia perkembangan lebih akibat
krisis ekonnomi yang melanda pedesaan.
Adapun struktur
sosial dari kota dapat rinci atas beberapa gejala sebagai berikut :
a. Heterogenitas
sosial
Kepadatan
penduduk mendorong terjadinya persaingan dalam pemanfaatan ruang. Orang dalam
bertindak memilih-milih mana yang paling menguntungkan baginya, sehingga
akhirnya tercapai sosialisasi. Demi berhasilnya kapilaritas sosial (membuat
karier) orang menguranngi anak dalam keluarga.
Kota
juga merupakan melting pot bagi suku ataupun ras. Masing-masing minoritas ada
kecenderungan untuk mempertahankan diri dengan memelihara jumlah anak yang
bannyak untuk tak hilanng terdesak.
b. Hubungan
sekunder
Jika
hubungan antara penduduk di desa disebut primer, dikota disebut sekunder.
Pengenalan dengan orang lain serba terbatas pada bidang hidup tertentu. Inni
disebabkan antara lain karena tempat tinggal orang juga cukup terpencar dan
saling mengenalnya hanya menurut perhatian antar pihak.
Ciri-ciri kelompok sekunder
1. Kelompok
ini terbentuk atas dasar kesadaran dan kemauan dari para anggotanya. Interaksi
dalam kelompok sekunder terdiri atas saling hubungan yang tidak langsung
berjauhan dan formal, kurang bersifat kekeluargaan. Hubungan hubungan tersebut
biasanya lebih objektif.
2. Peranan
atau fungsi kelompok sekunder dalam kehidupan manusia adalah untuk mencapai
salah satu tujuan tertentu dalam masyarakat dengan bersama, secara objek dan
rasional. Misalnya, organisasi partai politik, perhimpunan, serikat kerja, dan
sebagainya.[1]
c. Control
(pengawasan sekunder)
Di
kota orang tak memperdulikan perilaku pribadi sesamanya. Meski ada control
sosial tetapi ini sifatnya non pribadi; asal tak merugikan bagi umum, tindakan
dapat ditoleransikan.
d. Toleransi sosial
Dapat
orang-orang kota secara fisik berdekatan, tetapi secara sosial berjauhan. Dapat
saja disini orang berpesta dan pada saat yang sama tetangga menagisi orang
meninggal.
e. Mobilitas
sosial
Disini
yang dimaksudkan adalah perubahan status sosial seseorang. Orang menginginkan
kenaikan dalam jenjang dalam kemasyarakatan (social climbing). Dalam kehidupan
kota, segalanya diprofesionalkan, dan melalui profesinya orang dapat naik
posisinya. Selain usuaha dan perjuangan pribadi untuk berhasil, secara kelompok
seprofesi juga ada solidaritas klas. Terjadilah perkumpulan-perkumpulan orang
seprofesi: guru, dokter, wartawan, pedagang tukang becak, dsb.
f. Ikatan
sukarela (voluntary association)
Secara
ssukarela orang menggabungkan diri ke dalam perkumpulan yang di sukainya,
seperti sport, aneka grup musik, klub filateli, perkumpulan filantropi. Meski
sifatnya serba sukarela, ada pula gejala bahwa berbagai perkumpulan bersaing
mencari anggota melalui tehnik memikat dan propaganda, misalnya partai politik,
gerakan anti merokok, gerakan keluarga berencana.
g. Individualisasi
Orang-orang
dapat memutuskan apa-apa secara pribadi, merencanakan kariernya tanpa desakan
orang lain. Ini berlatar belakang corak sekunder kehidupan masyarakat kota,
sifat sukarelanya ikatan dan banyaknya kemungkinan yang tersedia.
h. Segregasi
keruangan (spatial segregation)
Akibat
dari kompetisi ruang, terjadi pola sosial yang berdasarkan persebaran tempat
tinggal atau sekaligus kegiatan sosial-ekonomis. Ini distudi oleh ekologi
manusia (human ecology). Terjadilah pemisahan (segregation) berdasarkan ras dan
sekali gus penupa jiwa. Misalnya ada wilayah kaum cina, arab, orang patuh agama
(kauman), kaum elite, kaum gelandangan, daerah operasi pelacuran, pencopetan,
kegiatan olahrag, hiburan, pertokoan dan pasar, kompleks kepegawaian tertentu
dsb.[2]