Ilmu pengetahuan merupakan alat bagi semua orang untuk
memahami fenomena alam semesta, fenomena hubungan antar manusia dan berbagai
permasalahan yang terjadi dalam alam semesta. Telah berkembang dengan begitu cepat
di berbagai bidang, baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial kemanusiaan.
Ilmu pengetahun mengajarkan cara berfikir ilmiah, cara berfikir ini memiliki tugas mengatasi realitas yang tidak menentu dalam kehidupan manusia, misalnya manusia kadang-kadang harus menimbang-menimbang terlebih dahulu sebelum mengambil suatu keputusan mengenai suatu tindakan atau perbuatan, manusia sebelum memakan ataupun meminum sesuatu, terlebih dahulu dipertimbangkan, apakah pilihan-pilihan untuk memakan dan meminum tadi memberikan kenikmatan, baik, halal dan sehat kepada dirinya.[1]
Ilmu pengetahun mengajarkan cara berfikir ilmiah, cara berfikir ini memiliki tugas mengatasi realitas yang tidak menentu dalam kehidupan manusia, misalnya manusia kadang-kadang harus menimbang-menimbang terlebih dahulu sebelum mengambil suatu keputusan mengenai suatu tindakan atau perbuatan, manusia sebelum memakan ataupun meminum sesuatu, terlebih dahulu dipertimbangkan, apakah pilihan-pilihan untuk memakan dan meminum tadi memberikan kenikmatan, baik, halal dan sehat kepada dirinya.[1]
Pilar ketiga bagi pendidikan anak, dimasa sekarang
sering terjadi pelecehan seksual dan kejahatan – kejahatan lain yang anak –
anak yang harus sebagai korban. Kemunculan FKDP dinilai bisa menghadirkan
harapan – harapan bagi generasi yang akan datang. Karena adanya jarak antara
orang tua dan sekolah maka di bentuklah FKDP sebagai media menjembatani antara
sekolah dan orang tua dalam hal pendidikan bagi anak. FKDP yang beranggotakan
pengurus kampung bertugas untung menciptakan arena bagi anak untuk berinteraksi
dengan aman dan bisa menciptakan kondisi yang ramah terhadap perkembangan anak.
Setiap generasi yang hidup dari satu tradisi ke tradisi
yang lain memiliki karakteristik tersendiri dalam memahami keadaan sosialnya.[2]
Untuk menciptakan generasi selanjutnya maka haruslah sejak dini ditanamkan
nilai – nilai yang di anggap baik bagi masyarakat agar tidak terjadi
penyimpangan – penyimpangan sosial. Globalisasi yang kini berlangsung memang
menguntungkan bagi masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia saat
ini, tetapi juga memiliki sisi negatif dari adanya globalisasi tersebut,
kemudahan mengakses apapun di manapun memang dianggap sebagai nilai positif
dari adanya internet tapi juga harus waspada terhadap adanya internet dengan website yang berisikan konten seksual dan berisikan
budaya barat yang negatif, yang memiliki kemungkinan besar akan ditiru oleh
anak. FKDP sebagai forum yang bisa menjadi filter akan arus informasi yang
sangat cepat didapatkan di manapun bisa dari teman sebaya anak, sekolah, orang
tua atau bahkan dari internet sekalipun dengan menanamkan nilai – inlai positif
yang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia.
Dengan menanamkan nilai – nilai positif pada anak sejak
dini dan dikenalkan dengan masyarakat disekitarnya akan membuat tradisi
berfikir dan bertindak yang didasarkan pada analisis atas fakta-fakta nyata,
akan memberikan implikasiimplikasi tersendiri bagi setiap orang, misalnya orang
yang terbiasa melakukan hal-hal tersebut akan terbiasa dan terlatih dalam cara
pengkajian dan analisis kritis, mengaitkan fakta-fakta nyata yang telah dikaji
dan dianalisis dengan kebiasaan-kebiasaan hidup mereka sehari-hari. Melalui
cara tersebut, maka terbentuklah pengetahuan yang bersifat khusus dan spesifik,
karena proses yang dilakukannya dengan mendasarkan pada fakta-fakta spesifik,
dan minat generasi muda pun tumbuh berkembang untuk memperoleh pengetahuan itu.[3]
Harapan – harapan masyarakat akan keberlangsungan generasi selanjutnya dan
jawaban atas kerisauan terhadap kejahatan terhadap anak, dinilai FKDP sebagai
forum yang strategis dalam menciptakan keteraturan dan kontrol sosial. Kini
menunggu FKDP dapat berjalan sebagai mana mestinya, yaitu sebagai sarana
pembelajaran bagi anak karena saat ini keluarga ataupun sekolah masih belum
bisa mengatasi problematika yang di alami anak, mulai dari kekerasan dalam
rumah tangga dimana anak yang menjadi korban kekerasan, penelantaran anak dan
anak yang ditinggal bekerja oleh orang tuanya dan menitik beratkan proses
pembelajaran kepada sekolah. Sekolahpun masih belum bisa menuntaskan kasus bullying atau kekerasan antar siswa
(tawuran)