Minggu, 29 Oktober 2017

Struktural Fungsional dan Konflik dalam pendidikan

Teori struktural fungsional dalam pendidikan. Di dalam lingkungan pendidikan tidak hanya bicara tentang apa saja yang berada di sekolah tetapi juga bicara tentang semua sel yang memiliki peran dalam pendidikan, banyak lembaga – lembaga di masyarakat yang memiliki peran masing – masing yang memiliki tanggung jawab yang berbeda – beda. Seperti keluarga menyediakan konteks untuk memproduksi, memelihara, dan mensosialisasikan anak, dan lembaga pendidikan menawarkan cara untuk mengembangkan keterampilan masyarakat, pengetahuan, dan budaya untul generasi muda.[1]


Teori konflik dalam pendidikan, dalam teori karl marx tentang konflik kelas antara kaum pemilik modal (pemilik faktor produksi) dan kaum pekerja. Marx mengatakan bahwa kaum kapitalis adalah orang-orang yang bersikap aneh yang mempekerjakan dan mendidik orang-orang (buruh) yang akan menghancurkan masa depannya. Di indonesia sendiri misalnya seperti halnya sebuah lembaga pendidikan yang beberapa tahun terakhir ini gencar membekali softskill dan hardskill untuk di cetak pelajar sebagai pekerja yang menggunakan embel – embel siap kerja di gerbang masuknya, sedangkan masyarakat siap pekerja setiap tahunnya bertambah mulai dari sma, smk, s1, s2, s3, akan tetapi perusahaannya hanya bisa menampung sedikit dari mereka, dan yang akan datang yaitu MEA masyarakat ekonomi asia dimana aliran baik berupa dana keuangan maupun SDM, akan semakin banyak persaingan yang sangat ketat. Sangat berbahaya jika sampai banyak perusahaan luar negeri yang membangun pabrik atau faktor produksi di indonesia, dengan dalih menyerap tenaga kerja tetapi membayar buruh tidak semestinya, sedangkan kebutuhan sehari hari sangat bayak.
Maka perlu pendidikan baik formal, non- formal, in- formal untuk menciptakan generasi pewaris yang bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri dan menyediakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar.
Jika menggunakan pandangan Max weber konflik dalam pendidikan seperti orang tua yang memiliki gagasan atau cita – cita untuk mensekolahkan anaknya ke sekolah kejuruan agar siap untuk kerja dan untuk dapat mendominasi di tempat kerja di tahun – tahun berikutnya karena orang tua tang beranggapan bahwa anaknya akan mengalami kenaikan pangkat jika telah bekerja cukup lama di suatu perusahaan.




[1] Rakhmad Hidayat, Sosiologi Pendidikan Emile Durkheim, PT. Rajagrafindo Persada. Jakarta, 2014, hlm 78